Nilai-nilai Berita
A. Keluarbiasaan
Berita adalah suatu hal yang tidak biasa. Namun, suatu hal yang luar biasa. Contohnya adalah orang yang menggigit anjing.
B. Kebaruan
Berita adalah semua hal yang baru. Contohnya adalah pemilihan walikota baru.
C. Akibat
Berita adalah sesuatu yang berdampak luas. Yaitu sesuatu yang menimbulkan dampak besar dalam kehidupan masyarakat.
D. Kedekatan
Kedekatan ini dapat dilihat dari kedekatan geografis dan psikologis. Semakin dekat dengan suatu peristiwa yang terjadi dengan lingkungan kita,maka semakin terusik dan tertarik kita untuk menyimak dan mengikutinya.
E. Informasi
Tidak semua informasi memiliki dan mengandung nilai berita. Hanya informasi yang memiliki nilai berita dan memberi banyak manfaat pada publik yang patut mendapat perhatian media.
F. Konflik
Sebuah berita harus memunculkan konflik. Seperti konflik fisik yaitu perkelahian dan peperangan. Peristiwa tersebut layak berita karena biasanya ada kerugian dan korban yang ditimbulkan.
G. Orang penting
Berita adalah tentang orang-orang penting, ternama, tersohor, selebriti. Jangankan ucapan dan kelakuan mereka. Namanya saja sudah membuat berita.
H. Kejutan
Sesuatu yang datang tiba- tiba, diluar dugaan. Seperti terjadinya gempa di Lombok.
I. Keterkaitan manusia
Dalam hal ini maka
wartawan akan bertindak lebih dalam mengenai unsur-unsur
kemanusiaan dengan mengumpulkan bahan-bahan tambahan seperti
yang menyangkut emosi, fakta biografis, kejadian-kejadian yang
dramatis, deskripsi, motivasi, ambisi, kerinduan, dan kesukaan dan
ketidaksukaan umum dari masyarakat. Semua ini bukan peristiwa (the
background of events). Sebenarnya, cerita human interest berisi nilai
cerita (story vaule) dan bukan nilai berita.
J. Seksualitas
Banyak pendapat yang tidak menyebutkan seks sebagai sebuah nilai dalam berita jurnalistik. Namun faktanya, peristiwa apapun yang berhubungan dengan seksualitas, biasanya dieksplore sedemikian rupa oleh media massa. Kasus anggota DPR-Maria Eva, pencabulan anak di bawah umur, perselingkuhan para pejabat, prositusi artis, hingga kehebohan terakhir: LGBT. Dengan demikian, seksualitas adalah berita bernilai tinggi.
Selasa, 18 Desember 2018
Bahasa jurnalistik
BAHASA JURNALISTIK
Bahasa jurnalistik gaya bahasa yang digunakan dalam menulis berita. Bahasa jurnalistik juga sering disebut sebagai bahasa pers, media massa. Seorang jurnalisme harus faham dan mengerti betul tentang bahasa jurnalistik. Dengan menggunakan bahasa jurnalistik, tulisan yang semua kita anggap biasa-biasa saja, tidak menarik untuk dibaca, dan bahasanya tidak efektif. Dapat menjadi tulisan yang ringkas, padat, dan yang paling penting adalah enak untuk dibaca.
Bahasa jurnalistik haruslah sesuai dengan EYD ( Ejaan Yang Disempurnakan), baku dan efektif. Bahasa jurnalistik membuat tulisan di media massa menjadi lebih komunikatif. Tidak bertele- tele dan basa-basi.
Sumber berita
Kita akan membahas tentang sumber berita.
Dapat kita ketahui bahwa sumber berita adalah bagian penting atau jantung kehidupan bagi seorang jurnalisme.sumber berita adalah asal atau tempat berita tersebut di peroleh. Ada berbagai cara yang dapat dilakukan dalam mencari sumber berita:
1. Melakukan observasi langsung
Para jurnalisme turun langsung kelapangan untuk mencari berita.
2. Sistem beat
Sistem ini mengarahkan jurnalisme untuk memegang bidang tertentu saja. Fokus pada satu bidang. Contohnya di istana negara.
3. Narasumber
Jurnalisme langsung datang dan mewawancarai narasumber
Dapat kita ketahui bahwa sumber berita adalah bagian penting atau jantung kehidupan bagi seorang jurnalisme.sumber berita adalah asal atau tempat berita tersebut di peroleh. Ada berbagai cara yang dapat dilakukan dalam mencari sumber berita:
1. Melakukan observasi langsung
Para jurnalisme turun langsung kelapangan untuk mencari berita.
2. Sistem beat
Sistem ini mengarahkan jurnalisme untuk memegang bidang tertentu saja. Fokus pada satu bidang. Contohnya di istana negara.
3. Narasumber
Jurnalisme langsung datang dan mewawancarai narasumber
Senin, 17 Desember 2018
Komponen komunikasi
Ilmu komunikasi
mempunyai beberapa komponen komunikasi.
komponen yang mendasari ilmu tersebut, ada beberapa komponen dalam komunikasi yaitu:
- Encoding adalah sebuah proses penyampaian pesan. Orang yang menyapaikan pesan ini disebut sebagai Encoder.
- Decoding adalah sebuah proses penerimaan pesan. Orang yang menerima pesan ini disebut sebagai Decoder.
- Transmisi adalah media yang menghubungkan antara encoding dan decoding.
Adapun jenis-jenis komunikasi yaitu:
- Dyadic adalah sebuah proses komunikasi yang berlangsung hanya satu arah tanpa ada respon dari pihak lain.
- Timbal Balik adalah sebuah proses komunikasi yang berlangsung dua arah yang mana didalam proses ini terjadi proses komunikasi yang aktif antara pihak satu dengan yang lainnya.
Dalam sebuah proses komunikasi ada beberapa unsur yang harus ada di dalam proses komunikasi yaitu:
* Komunikator
* Pesan atau isi
* Komunikan
* Feed back atau umpan balik
* Gangguan atau noise
* Media
Minggu, 02 Desember 2018
SENI SEBAGAI MEDIA DAKWAH
SENI SEBAGAI MEDIA DAKWAH
Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas Akhir Semester Ganjil
Mata Kuliah : Sosiologi dan Antropologi Dakwah
Dosen Pengampu : Mas’udi, S.Fil.I.,M.A.
Oleh :
Lutfi Tria Maharani
1740210046
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
DAKWAH DAN KOMUNIKASI
KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Setiap gagasan
seni yang terlahir memiliki makna dan
tujuannya masing-masing, seni adalah media netral yang
dipengaruhi cara pandang dan ide-ide untuk apa dan siapa
gagasan seni itu di buat. Dalam keadaan netral seni terkadang terbawa kepada
dua hal yaitu gagasan positif dan negatif
tergantung tadi, untuk apa dan siapa seni itu dibuat.
Dari sifatnya yang netral itu pula seni memiliki masalah
yang lumayan rumit dalam kehidupan masyarakat dewasa ini, karena
dipandang sebagai sesuatu yang menyalahi norma norma dalam kehidupan
salah satunya norma-norma gama, padahal seni itu tidak pernah salah dan tidak
seharusnya disalahkan karna yang salah adalah pelakunya,bukan seninya Sebagai
contoh, bagaimana jka kita lihat dengan seninya para wali songo
leluhur kita mereka bisa mengislamkan ribuan bahkan jutaan penduduk nusantara
khususnya tanah jawa, apakah seni harus disalahkan karena terlahirnya, sangat
tidak rasional jika kebajikan ini disalahkan.
Seni merupakan
hasil dan bakat manusia, manusia dan kesenian tidak dapat dipisahkan, sebab
kesenian merupakan perwujudan dari gagasan dan perasaan seseorang yang tidak
pernah lepas dari masyarakat dan dibesarkan melalui kebudayaan. Bahkan sebelum
manusia mengenal tulisan, seni telah menjadi salah satu bagian dalam kehidupan
mereka. Ada berbagai macam seni yang kita kenal, seperti ada yang berbentuk
tulisan, kaligrafi (lukisan), ukir, sastra, seni wayang, seni rupa, tari, dan
lain sebagainya.
Islam merupakan
agama yang universal dan selalu mendorong umatnya untuk menyeru atau berdakwah
sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing individu. Dakwah
mengandung arti ajakan, menyeru, atau memanggil. Dalam arti luas berarti
mengajak orang untuk meyakini dan mengamalkan ajaran agama Islam (Amin,
2009:1). Adanya tekhnologi yang canggih misalnya computer, televisi, radio dan
bahkan internet dapat berperan penting terhadap penyuksesan dakwah tersebut
atau mungkin malah menjadi hambatan dalam berdakwah. Untuk itu kita dalam
berdakwah diperlukan adanya siasat cermat dan jitu agar kebudayaan luar yang
masuk melalui alat teknologi tidak terancam. Maka dari itu kesenian tradisional
Indonesia dapat dijadikan media dakwah sebagaimana dilakukan oleh Sunan Kali
Jaga dan Dalang lainnya yang memamfaatkan Wayang Kulit sebagai alat untuk
menyebarkan agama islam.
Konsep dakwah
yang strategis dan lumintu, dengan pengelolaan secara profesional yang mampu
mengakomodasi segala permasalahan sosial. Di sini, seni dan budaya dapat
menjadi metode atau media dakwah, namun juga menjadi sasaran antara bagi dakwah
Islamiyah itu sendiri. Sebagai media atau metode, seni budaya mempunyai
proyeksi yang mengarah pada pencapaian kesadaran
kualitas keberagamaan Islam yang pada gilirannya mampu
mernbentuk sikap dan perilaku Islami yang tidak menimbulkan
gejolak sosial, tetapi justru makin memantapkan
perkembangan sosial. Sedangkan sebagai sasaran antara, dakwah Islamiyah
diarahkan pada pengisian makna dan nilai-nilai Islarni yang integratif ke dalam
segala jenis seni dan budaya yang akan dikembangkan.
Dilatarbelakang
seni sebagai sesuatu yang bersifat netral dan bisa diarahkan kepada sesuatu
yang positif dan negatif itu, maka saya akan mencoba menguraikan bagaimana seni
diarahkan kepada sesuatu yang sangat positif dan bernilai kebajikan-kebajikan
yaitu seni dijadikan sebagai media dakwah. Dakwah sebagai kegiatan yang
bersifat, mengajak, menyeru umat manusia kepada ketaatan
terhadap tuhan yang maha esa untuk menjalankan perintahnya dan
menjauhi larangannya, jika kita menarik benang merahnya dakwah dalam arti
singkat adalah mengajak dan mempengaruhi dan hal ini sangat kontras dimiliki
oleh sifat seni yang mampu mempengaruhi perasaan, kelakuan, cara pandang dan
sikap seseorang yang tentunya akan sangat konperehensif jika seni
dijadikan sebagai sarana media dakwah.
B.
Rumusan Masalah
Dari
latar belakang diatas, penulis akan mengambil beberapa rumusan masalah yang akan
dibahas dalam makalah ini, antara lain :
1.
Bagaimana hubungan antara seni dengan dakwah?
2.
Bagaimana karakteristik seni Islam itu?
3.
Bagaimana perkembangan dakwah melalui kesenian?
C.
Tujuan
Tujuan
penulisan makalah ini antara lain :
1.
Untuk mengetahui bagaimana hubungan antara seni dengan dakwah.
2.
Untuk mengetahui karakteristik seni Islam.
3.
Untuk mengetahui perkembangan dakwah melalui kesenian.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Hubungan antara Seni dengan Dakwah
Dakwah sebagai media pembentuk kepribadian (self personality)
dan perilaku (community attitude) umat harus dihadirkan dengan strategi
yang berhaluan kepada pengembangan keberagamaan (religiosity) yang
progresif. Progresivitas dakwah mustahil diwujudkan tanpa dukungan
media dan strategi dakwah yang kompeten. Dakwah pada hakikatnya merupakan risalah bagi setiap mukmin, perintah Rasulullah yang menuntut tanggung jawab pelaksanaannya sepanjang masa dalam berbagai keadaan. Pada tingkat realisasi, dakwah tetap erat kaitannya dengan lima unsur, yakni juru dakwah (da’i), sasaran (masyarakat atau mad’u), materi, metode dan media dakwah. Dalam hal ini, seni merupakan salah satu media dakwah yang cukup efektif dalam menyentuh kesadaran bagi sasaran dakwah.[1]
dan perilaku (community attitude) umat harus dihadirkan dengan strategi
yang berhaluan kepada pengembangan keberagamaan (religiosity) yang
progresif. Progresivitas dakwah mustahil diwujudkan tanpa dukungan
media dan strategi dakwah yang kompeten. Dakwah pada hakikatnya merupakan risalah bagi setiap mukmin, perintah Rasulullah yang menuntut tanggung jawab pelaksanaannya sepanjang masa dalam berbagai keadaan. Pada tingkat realisasi, dakwah tetap erat kaitannya dengan lima unsur, yakni juru dakwah (da’i), sasaran (masyarakat atau mad’u), materi, metode dan media dakwah. Dalam hal ini, seni merupakan salah satu media dakwah yang cukup efektif dalam menyentuh kesadaran bagi sasaran dakwah.[1]
Kegiatan dakwah sering difahami
sebagai upaya untuk memberikan solusi Islam terhadap berbagai masalah kehidupan
dari seluruh aspek seperti aspek ekonomi, sosial, budaya, hukum, politik dan
lain-lain. Oleh karena itu, dakwah haruslah dikemas dengan cara dan metode yang
tepat dan pas, dakwah harus tampil secara aktual dalam arti memecahkan masalah
yang kekinian dan hangat di tengah masyarakat. Faktual dalam arti kongkrit dan
nyata, serta konstektual dalam arti relevan dan menyangkut problema yang sedang
dihadapi oleh masyarakat.[2]
Namun demikian, aktivitas dakwah
tampaknya belum berhasil secara penuh merubah keadaan masyarakat menjadi lebih
baik. Ada banyak faktor yang menjadi penyebabnya, salah satunya adalah karena
dakwah yang selama ini dilakukan bisa jadi cenderung kering, impersonal dan
hanya bersifat informatif belaka, belum menggunakan teknik-teknik komunikasi
yang efektif. Situasi ini mengindikasikan dakwah yang belum berpijak pada
realitas sosial yang ada. Padahal dakwah dan realitas sosial memiliki hubungan
interdependensi yang sangat kuat. [3]
Beberapa hal yang penting diketahui
dalam dakwah adalah, bahwa ada dua segi dakwah yang tidak dapat dipisahkan,
tetapi dapat dibedakan yaitu menyangkut isi dan bentuk, substansi dan forma, pesan
dan cara penyampaiannya, esensi dan metode. Proses dakwah menyangkut
keduaduanya sekaligus dan tidak dapat dipisahkan. Hanya saja perlu perlu
disadari bahwa isi, substansi, pesan dan esensi senantiasa mempunyai dimensi
universal yang tidak terikat oleh ruang dan waktu. Dalam hal ini substansi
dakwah adalah pesan keagamaan itu sendiri, itulah sisi pertama dalam dakwah.
Sisi kedua, meskipun tidak kurang pentingnya dalam dakwah yakni sisi bentuk,
forma, cara penyampaian dan metode.[4]
Tentu saja seorang da’i hendaklah
memilih metode dan media yang dari masa ke masa terus berkembang seperti
mimbar, panggung, media cetak atau elektronik (radio, internet, televisi,
komputer). Kemudian dengan mengembangkan media atau metode kultural dan
struktural yakni pranata sosial, seni dan karya budaya. Juga dengan
mengembangkan dan menyesuaikan metode dan media seni budaya masyarakat setempat
yang relevan seperti wayang, drama, musik, lukisan dan lain sebagainya.
Seni adalah ekspresi yang bernuansa
Indah. Apakah itu ucapan atau ungkapan, lukisan atau tulisan, pendek kata dalam
segala aspek kehidupan. Dengan ilmu segalanya menjadi mudah, dengan seni
segalanya menjadi indah. Sedangkan menurut K. Prenc.M seni adalah penjelmaan
rasa indah yang terkandung dalam hati orang yang dilahirkan dengan perantara
alat-alat komunikasi dalam bentuk yang ditangkap oleh panca indera pendengaran
(seni suara), penglihatan (seni lukis) atau yang dilahirkan dengan gerak (seni
drama dan tari).[5]
Maka seni dapat digunakan sebagai salah satu media dakwah.
Ditinjau dari sisi sosiokultural,
sudah menjadi fakta bahwa salah satu pilar kesuksesan dakwah nabi Muhammad SAW
dikalangan masyarakat Arab adalah strategi beliau dalam mendekati kaum Arab
lewat pendekatan seni dan budaya. Adanya kitab suci Al-Qur’an yang bernilai
sastra tinggi di lingkungan yang sangat menghargai sastra budaya pada saat itu
merupakan bukti bahwa melalui budaya masyarakat mudah menerima ajaran-ajaran
Islam. Begitu juga dalam menetapkan hukum atas sesuatu, beliau tidak
menghilangkan budaya yang ada, melainkan hanya meluruskan hingga sesuai dengan
ajaran-ajaran Islam.
Dalam pengertian yang luas, dakwah
punya hubungan simbiosis dengan seni, dimana makna dan nilai-nilai Islam dapat
dipadukan. Narnun dalam hal ini perlu adanya konsep dakwah yang lebih strategis
lagi, dengan pengelolaan secara profesional yang mampu mengakomodasi segala
permasalahan sosial. Di sini, seni dapat menjadi metode atau media dakwah,
namun juga menjadi sasaran antara bagi dakwah Islamiyah itu sendiri.
Sebagai media atau metode, seni
mempunyai proyeksi yang mengarah pada pencapaian kesadaran kualitas
keberagamaan Islam yang pada gilirannya mampu mernbentuk sikap dan perilaku
Islami yang tidak menimbulkan gejolak sosial, tetapi justru makin memantapkan
perkembangan sosial. Sedangkan sebagai sasaran, dakwah diarahkan pada pengisian
makna dan nilai-nilai Islarni yang integratif ke dalam segala jenis seni dan
budaya yang akan dikembangkan. Pada awal era kejayaan Islam, telah lahir
tokoh-tokoh besar dibidang seni musik. Para ilmuwan muslim telah menjadikan
musik sebagai media pengobatan atau terapi. Kegemilangan peradaban Islam
ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Kemajuan ilmu
pengetahuan dan kebudayaan ini bersentuhan erat dengan moral Islam, budaya arab
dan kebudayaan besar lainnya.
Dalam konteks Indonesia, upaya
penyampaian ajaran Islam melalui media seni sudah memiliki umur yang relatif
tua. Para Walisongo dengan beberapa keahlian keseniannya telah mampu
menyebarkan agama Islam hingga keberbagai daerah di Nusantara. Sunan Kalijaga
dan Sunan Bonang adalah dua dari sebagian tokoh penyebar Islam yang menjadikan
seni musik sebagai media dakwah. [6]
Walisongo muncul saat runtuhnya dominasi kerajaan Hindu Budha di
Indonesia. Kesembilan “wali” yang dalam bahasa Arab artinya penolong ini
merupakan para intelektual yang terlibat dalam upaya pembaharuan sosial yang
pengaruhnya terasa dalam berbagai manifestasi kebudayaan mulai dari kesehatan,
bercocok tanam, berniaga hingga kepemerintahan. Yang menarik dari kiprah walisongo
adalah aktivitas mereka yang menyebarkan Islam di bumi pertiwi tidaklah dengan
armada militer dan pedang, tidak juga menginjak-injak dan menindas keyakinan
lama yang dianut oleh masyarakat Hindu-Budha yang saat itu mulai memudar
pengaruhnya. Namun, mereka melakukannya dengan cara halus dan bijaksana. Mereka
tidak langsung kebiasaan-kebiasaan lama masyarakat namun justru menjadikannya
sebagai sara berdakwah mereka. Salah satu media yang mereka gunakan sebagai
media dakwah adalah wayang.
B.
Karakteristik Seni Islam
Eksistensi dakwah dalam
lingkaran studi komunikasi menjadi
media yang sangat penting dihadirkan. Kenyataan ini menjadi sangat
beralasan karena posisi dakwah dalam dunia komunikasi menjadi dua
mata rantai konsepsi yang tiada bisa dipisahkan. Wahidin Saputro
(2011:225-226) mencatat bahwa dakwah sebagai proses informasi
nilai-nilai keislaman membutuhkan apa yang dinamakan proses
pengomunikasian. Kandungan ajaran Islam yang didakwahkan
merupakan sekumpulan pesan-pesan yang dikomunikasikan kepada manusia.
media yang sangat penting dihadirkan. Kenyataan ini menjadi sangat
beralasan karena posisi dakwah dalam dunia komunikasi menjadi dua
mata rantai konsepsi yang tiada bisa dipisahkan. Wahidin Saputro
(2011:225-226) mencatat bahwa dakwah sebagai proses informasi
nilai-nilai keislaman membutuhkan apa yang dinamakan proses
pengomunikasian. Kandungan ajaran Islam yang didakwahkan
merupakan sekumpulan pesan-pesan yang dikomunikasikan kepada manusia.
Di sinilah berlaku pola
proses dakwah dengan proses
komunikasi. Tuntutan akan kenyataan dakwah beriring komunikasi
bersandar kepada hakikat ajaran-ajaran keagamaan yang tidak
semuanya berupa bentuk keterangan yang gamblang. Kebanyakan
pesan keagamaan justru berupa lambang-lambang atau simbol-simbol
yang harus diuraikan dan diinterpretasikan agar dapat dipahami oleh
manusia. Tujuannya adalah agar peran komunikasi secara umum bagi
dakwah sangat dominan.[7]
komunikasi. Tuntutan akan kenyataan dakwah beriring komunikasi
bersandar kepada hakikat ajaran-ajaran keagamaan yang tidak
semuanya berupa bentuk keterangan yang gamblang. Kebanyakan
pesan keagamaan justru berupa lambang-lambang atau simbol-simbol
yang harus diuraikan dan diinterpretasikan agar dapat dipahami oleh
manusia. Tujuannya adalah agar peran komunikasi secara umum bagi
dakwah sangat dominan.[7]
Islam merupakan agama
tauhid, yang berarti intisari ajaran Islam sekaligus esensi seluruh ajaran
Islam. Al-Faruqi menyatakan “There can be
no doubt that essence of Islamic civilication is Islam; or that essence of Islam is tauhid”. Artinya, dapat dipastikan bahwa esensi dari seluruh peradaban Islam adalah Islam, dan esensi dari Islam adalah tauhid. Hal ini menunjukkan bahwa kesenian dalam Islam harus selaras dengan nilainilai tauhid. Kalimat tauhid yang paling singkat, tetapi memiliki makna yang sangat dalam yakni “Laa Ilaaha Illa Allah.” Inti kalimat ini adalah membebaskan manusia dari ketundukan terhadap selain Allah SWT., dan untuk menyembah Allah SWT., semata (Tahrir al-Nas ‘Ibad Ila Ibaditillah). Jadi, berkesenian harus mencerminkan semangat pembebasan tersebut, bukan sebaliknya. Oleh karena itu, kesenian dalam Islam bukan hanya sekedar mengajarkan moral, tetapi harus mengandung moral. Artinya, untuk menyampaikan pesan-pesan moral melalui kesenian, harus tetap dalam koridor moral. Seni Islam merupakan hasil dari pengejewantahan keesaan dalam bidang keanekaragaman. Ia harus merefleksikan kandungan prinsif keesaan Ilahi. Seni Islam harus mewujudkan, dalam taraf fisik yang secara langsung dapat dipahami oleh fikiran yang sehat, realitas-realitas dasar dan perbuatan-perbuatan sebagai tangga bagi pendakian jiwa dari yang dapat dilihat dan didengar menuju yang ghaib. Ada beberapa norma yang harus dipegang dalam kesenian menurut Islam, yaitu:
no doubt that essence of Islamic civilication is Islam; or that essence of Islam is tauhid”. Artinya, dapat dipastikan bahwa esensi dari seluruh peradaban Islam adalah Islam, dan esensi dari Islam adalah tauhid. Hal ini menunjukkan bahwa kesenian dalam Islam harus selaras dengan nilainilai tauhid. Kalimat tauhid yang paling singkat, tetapi memiliki makna yang sangat dalam yakni “Laa Ilaaha Illa Allah.” Inti kalimat ini adalah membebaskan manusia dari ketundukan terhadap selain Allah SWT., dan untuk menyembah Allah SWT., semata (Tahrir al-Nas ‘Ibad Ila Ibaditillah). Jadi, berkesenian harus mencerminkan semangat pembebasan tersebut, bukan sebaliknya. Oleh karena itu, kesenian dalam Islam bukan hanya sekedar mengajarkan moral, tetapi harus mengandung moral. Artinya, untuk menyampaikan pesan-pesan moral melalui kesenian, harus tetap dalam koridor moral. Seni Islam merupakan hasil dari pengejewantahan keesaan dalam bidang keanekaragaman. Ia harus merefleksikan kandungan prinsif keesaan Ilahi. Seni Islam harus mewujudkan, dalam taraf fisik yang secara langsung dapat dipahami oleh fikiran yang sehat, realitas-realitas dasar dan perbuatan-perbuatan sebagai tangga bagi pendakian jiwa dari yang dapat dilihat dan didengar menuju yang ghaib. Ada beberapa norma yang harus dipegang dalam kesenian menurut Islam, yaitu:
a.
Dilarang melukis lukisan yang bersifat pornografi, serta melukis
hal-hal yang bernyawa.
b.
Dilarang menciptakan hikayat yang menceritakan dewa-dewa,
kebiasaan pengarang yang mengkritik Tuhan.
c.
Dilarang menyanyikan lagu-lagu yang berisikan kata-kata yang tidak
sopan.
d.
Dilarang memainkan musik yang merangsang kepada gerakangerakan
sensual.
e.
Dilarang berpeluk-pelukan antara laki-laki dan perempuan atas nama
tarian.
f.
Dilarang menampilkan drama dan film yang melukiskan kekerasan,
kebencian, dan kekejaman.
g.
Dilarang memakai pakaian yang memamerkan aurat.[8]
Seni secara sederhana
adalah usaha untuk menciptakan bentuk-bentuk yang menyenangkan, bentuk-bentuk
yang menyenangkan itu memuaskan penghayatan, dan penghayatan itu dapat
dipuaskan manakala kita mampu mengapresiasinya. Ada berbagai macam bentuk seni
sebagaiamana yang sudah dituliskan di atas yakni, seni tari, seni rupa, seni
lukis, dan lain-lain. Seni tari dianggap bersifat Islami apabila pada kandungan
pesan yang disampaikan saat menari mengandung unsur-unsur Islam. Dengan
demikian unsur keislamannya bukan hanya semata-mata pada gaya atau tekniknya
saja tetapi lebih pada pesan yang disampaikan. Jadi, seni Islam adalah seni
yang mengandung unsur-unsur keislaman yang terkandung didalam al-Qur’an
dan al-Hadits.
Menurut Islam, seni tidak boleh
diklasifikasikan kepada subjek atau objek semata-mata. Ia harus dilihat sebagai
Islam sendiri memandang sesuatu. Ia tidak dilihat pada sudut tertentu tetapi
pada sesuatu yang menyeluruh Selaras dengan kehidupan yang telah ditentukan
oleh Allah yang telah dimuatkan dalam firmanNya (Al Quran). Cara praktikal atau
amaliyah pula melalui teladan kehidupan Rasulullah SAW. Oleh sebab itu, seni
Islam mempunyai noktah dan tujuan yang jelas yaitu sebagai manifestasi
beribadah kepada Allah. Manakala kandungannya pula seiring dengan nilai-nilai
Islam.
Seni Islam mempunyai dasar yang
jelas dalam melahirkan proses kreatif di dalam berkarya. Karya seni Islam
senantiasa memberikan arah tujuan kehidupan manusia yang lurus sesuai dengan
fitrah manusia yang berlandaskan pengabdian, karena Islam mengenal adanya
akhirat setelah dunia. Seperti sebuah hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan
oleh Ibnu Majah dan Imam Ahmad, Rasulullah bersabda kepada Umar bin Al Khattab
yang ketika melihatnya mengenakan pakaian yang baru, “kenakanlah pakaian baru, hiduplah
secara terpuji dan matilah sebagai seorang syahid dan Allah memberimu
kesenangan kehidupan di dunia dan akhirat”.[9]
Berdasarkan tujuan dan kandungan
seni Islam maka setiap seniman Muslim harus memahami nilai-nilai Islam terlebih
dahulu sebelum menguasai sesuatu tentang seni. Dalam arti lain, nilai Islamlah
yang akan menjadi rujukan keseniannya. Seorang seniman yang melahirkan karya
seni tidak terlepas dari pengalaman dan kehidupan yang dijalaninya. Oleh sebab
itu, jika ia memahami nilai-nilai secara baik dan meyeluruh, maka karya seni
yang dihasilkan pasti memancarkan roh keislamannya. Bukan permasalahan yang
mudah untuk mendefinisikan apa sebenarnya makna seni Islam tersebut. Apakah
yang dalam pengungkapannya memakai bahasa Arab sebagaimana orang awam melihat
yang dapat kita katakan sebagai seni Islam. Ataukah seni yang mendapatkan
pengakuan dari ajaran Islam, ataukah seni yang dalam operasionalnya bernuansa
atau bernafaskan nilai-nilai yang termaktub dalam sumber ajaran agama Islam.
Namun demikian, jika merujuk pada
pandangan para ahli, mungkin kita dapat membangun persepsi yang setidaknya sama
tentang apa sebenarnya seni Islam tersebut. Sementara itu, bila kita merujuk
pada akar makna Islam yang berarti meyelamatkan ataupun menyerahkan diri, maka
bisa jadi yang namanya seni Islam adalah ungkapan ekspresi jiwa setiap manusia
yang termanifestasikan dalam segala macam bentuknya, baik seni ruang maupun
seni suara yang dapat membimbing manusia ke jalan atau pada nilai-nilai Islam.
Jadi, pengakuan seni oleh Islam tidak lepas dari fitrah manusia
yang menuntut keserasian dan keseimbangan antara unsur-unsur fikir, rasa, karsa
dan karya. Dari sisi fungsinya, seni dapat menjadi media mensyukuri nikmat
Allah, dimana Allah telah menganugerahi manusia berbagai potensi, baik potensi
rohani maupun potensi inderawi (mata, telinga dan lai-lain). Fungsi seni disini
ialah menghayati sunnah Allah, baik pada alam, maupun yang terdapat dalam
kreasi manusia.
Seni merupakan perkara yang sangat penting karena
berhubungan dengan hati dan perasaan manusia. Seni berusaha kecenderungan dan
perasaan-perasaan jiwa manusia dengan alat-alat yang beraneka ragam dengan
menggunakan alat-alat yang dapat didengar, dibaca, dilihat, dirasakan, maupun
dipikirkan. Karena seni merupakan alat untuk mencapai tujuan, maka hukumnya
sejalan dengan hukum tujuannya. Artinya, kalau digunakan untuk tujuan yang
positif, hukumnya halal, tetapi sebaliknya kalau digunakan untuk tujuan yang
negatif, maka hukumnya haram.
C.
Perkembangan Dakwah melalui Kesenian
1.
Masa Lampau
Dakwah dimasa lalu menghadapi masalah yang cukup berbeda dengan
masa kini, sehingga para pendakwah di masa lampau mengunakan berbagai macam
pendekatan. Keadaan masa lalu yang harus mengunakan pendekatan pada kultur yang
sudah ada dan kebudayaan, serta agama yang sudah berkembang terlebih dahulu di
suatu daerah harus mengunakan cara yang efektif pada masanya yaitu seni yang di
minati di masa itu.
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa strategi dakwah Walisongo
mempunyai sikap yang sangat moderat terhadap kebuyaan lokal. Mereka mengadopsi
kebudayaan dan tradisi lokal dan mengisiya dengan nilai-nilai Islam. Sikap ini
terus dipertahankan, meskipun mereka sudah menjadi mayoritas dan mempunyai
kerajaan Islam. Walisongo bahkan sengaja mngambil instrumen kebudayaan lokal
tersebut untuk mepromosikan nilai-nilai Islam.
Dengan kata lain, nilai-nilai Islam dipromosikan dengan isntrumen
kebuayaan lokal. Sebagai mana contoh, Walisongo mengubah makna konsep “Jimat
Kalimah Shada” yang asalnya berarti “jimat kali maha usada” yang bernuansa
theologi Hindu menjadi makna “azimat kalimat syahada”. Frase yang terakhir
merupakan pernyataan seseorang tentang keyakinan bahwa tiada Tuhan selain
Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusanNya
Dalam perspektif Islam, kalimah syahadah tersebut sebagai “kunci
surga” yang berarti sebagai formula yang akan mengantarkan manusia menuju
keselamatan dunia dan akhirat. Maksutnya ialah syahadat tersebut dalam
perspektif muslim mempunyai kekuatan spiritual bagi yang mengucapkannya. Hal
ini merupakan pernyataan seorang muslim untuk hidup dengan teguh memegang
prinsip-prinsi ajaran Islam sehingga meraih kesuksesan di dunia dan akhirat.[10]
Walisongo juga mengembangkan lirik dan langgam tembang-tembang
macapat yang sudah dikenal dan berkembang luas di masyarakat. Hanya saja
Walisongo turut memberikan nilai-nilai Islam melalui isi dari tembang tersebut.
Walisongo juga menciptakan lagu-lagu pujian keagamaan dengan model lirik
semacam uyon-uyon dan ilir ilir.[11]
Jadi, dakwah pada masa lampau juga sering disebut dengan Dakwah
Kultural karena dakwah dilakukan dengan cara mengikuti budaya-budaya kultur
masyarakat setempat dengan tujuan agar dakwahnya dapat diterima di lingkungan
masyarakat setempat. Dakwah kultural ini hukumnya syah-syah saja asal tidak
bertentangan dengan nilai-nilai syar’i yang sudah baku, misalnya masalah
aqidah. Sebab apabila dakwah yang kita anggap kultural ini kemudian kita salah
menafsirkannya, maka yang terjadi adalah kefatalan. Misalnya saja kita
berdakwah dengan harus mengikuti budaya agama lain yang dapat menggugurkan
nilai aqidah kita, maka dakwah semacam ini tidak boleh dilakukan.
2.
Masa Sekarang
Sedangkan di masa sekarang ini dakwah mengalami permasalahan yang
cukup beragam. Dikarenakan masuknya atau munculnya kebudayaan baru,
ideologi-ideologi baru yang tentu saja menjadikan model penyampaian dakwah
lebih bervariasi.
Islam sebagai agama dakwah yang universal mewajibkan umatnya untuk
melakukan internalisasi, difusi, transformasi dan aktualisasi syiar Islam.
karena keuniversalannya itulah Islam mampu menenmpatkan posisi strategis yang
mampu menjawab problematika yang muncul di tengah masyarakat modern. Untuk itu,
suatu kewajiban bagi para da’i untuk memfungsikan media dakwah secara efektif,
sehingga dapat mengarahkan umat untuk menguasai teknologi informasi dan
komunikasi bagi kepentingan umat. Dengan begitu, maka Islam mampu melaksanakan
program dakwah yang solutif terhadap kompleksitas umat dalam menerima aneka
ragam informasi.[12]
Dari sekian banyak media massa yang ada, maka film merupakan salah
satu media massa yang sangat efektif dalam pelaksanaan dakwah. Film memiliki
daya tarik tersendiri, dan dapat disajikan dalam berbagai bentuk dan variasi
sehingga dapat menimbulkan daya tarik bagi para penontonnya. Film merupakan
hasil olahan dari berbagai macam komponen, seperti perwatakan, kostum,
properti, alur, plot dan lainya yang mampu mengemas pesan maupun ideologi dari
pembuatnya serta menyampaikan realitas simbolik dari sebuah fenomena secara
mendalam.
Pengaruh film terhadap jiwa manusia sangat besar, ada yang psitif
ada yang negatif. Penonton tidak hanya terpengaruh sewaktu atau selama duduk
menontn, tetapi terus sampai waktu yang cukup lama. Pengaruh film itu bukan
sebatas pada cara berpakaian dan cara begaya saja tetapi sering menimbulkan
pengaruh yang lebih jauh.
Belakangan ini cara dakwah lewat film mulai banyak dilirik oleh
para aktivis dakwah di Indonesia. Kesuksesan film Ayat-ayat Cinta menyedot
perhatian seluruh lapisan masyarakat sehingga membuat sebagian aktivis dakwah
tertarik untuk turut berdakwah melalui film. Dakwah melalui film dapat dengan
mudah diterima oleh masyarakat karena nasehat yang disampaikan megalir tanpa
ada ksan untuk menggurui. Selain film, musik juga merupakan alat komunikasi
yang cukup efektif untuk digunakan sebagai media dakwah untuk saat ini. Melalui
sebuah lagu seseorang dapat menyampaikan sebuah pesan yang sangat mudah untuk
diterima dalam hati. Musik juga dapat mempengaruhi emosi dan perasaan seseorang
yang menikmatinya.
Dakwah sebagai media pembentuk kepribadian (self personality)
dan perilaku (community attitude) umat harus dihadirkan dengan strategi
yang berhaluan kepada pengembangan keberagamaan (religiosity) yang
progresif. Progresivitas dakwah mustahil diwujudkan tanpa dukungan media dan
strategi dakwah yang kompeten. Seiring dengan munculnya ragam media dan
strategi dakwah, eksistensi jurnalistik hadir sebagai salah satu media
komunikasi produktif. Di samping strategi dakwah yang telah umum common
sense dilakukan, kehadiran jurnalistik menjadi media kontemporer yang dapat
menyeimbangi perkembangan zaman globalization yang semakin pesat.
Kehadiran media jurnalistik dalam dinamika kehidupan manusia menjadi fakta yang
tidak terelakkan.
Eksistensi jurnalistik sebagai media utama penyajian komunikasi
dalam kehidupan umat manusia memiliki peranan yang signifikan. Realita ini
dapat dilihat pada pencapaian kemerdekaan Indonesia. Beberapa pejuang
kemerdekaan Indonesia menggunakan jurnalisme sebagai alat perjuangan. Di zaman
penjajahan Belanda, beberapa media jurnalistik terbit mengiringi jalannya
perjuangan, seperti Bintang Timoer, Bintang Barat, Java Bode, dan Medan
Prijaji. Ketajaman eksistensi jurnalistik semakin menguat ketika zaman
pendudukan Jepang. Beberapa media jurnalistik yang telah lama hadir di
tengah-tengah masyarakat Indonesia dilarang peredarannya. Akan tetapi, pada
akhirnya ada lima media yang mendapat izin terbit: Asia Raja, Tjahaja, Sinar
Baru, Sinar Matahari, dan Suara Asia. Zaman Orde Baru pun memberikan potret
yang tajam atas peranan media jurnalistik terhadap kebijakan pemerintah.
Besarnya ancaman yang dimunculkan oleh eksistensi media jurnalistik
mengakibatkan dibredelnya beberapa surat kabar nasional, di antaranya; Harian
Indonesia dan Majalah Tempo.[13]
Dalam pertumbuhan zaman, internet merupakan kebutuhan bagi banyak
orang karena dengan internet setiap pribadi mampu mengakses dan menemukan
segala informasi di seluruh dunia dengan cepat dan mudah. Kebutuhan internet
sangat penting sehingga peningkatan jumlah pemakai internet setiap tahun selalu
meningkat di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri jumlah pemakai internet selalu
meningkat dengan peningkatan yang cukup besar. Saat ini perkembangan internet
tidak lagi hanya digunakan untuk mencari data atau informasi yang dibutuhkan,
namun bisa juga digunakan sebagai sarana untuk menghancurkan kekuatan musuh.
Bahkan awal diciptakannya teknologi jaringan komputer sekitar tahun 1960
dimanfaatkan oleh angkatan bersenjata Amerika untuk mengembangkan senjata
nuklir. Amerika khawatir jika negaranya diserang maka komunikasi menjadi
lumpuh. Untuk itulah mereka mencoba komunikasi dan menukar informasi melalui
jaringan komputer. Dahulu internet hanya dapat digunakan oleh kalangan tertentu
dan dengan komponen tertentu saja. Tetapi saat ini orang yang berada di rumah
pun bisa terhubung ke internet dengan menggunakan modem dan jaringan telepon.
Selain itu, Internet banyak digunakan oleh perusahaan, lembaga pendidikan,
lembaga pemerintahan, lembaga militer di seluruh dunia untuk memberikan
informasi kepada masyarakat.
Hadirnya akses internet merupakn media yang tak bisa dihindari,
karena telah menjadi suatu peradaban baru dalam dunia informasi dan komunikasi
tingkat global. Dengan adanya akses internet, maka sangat banyak informasi yang
dapat dan layak diakses oleh masyarakat internasional, baik untuk kepentingan
pribadi, pendidikan, bisnis, dan lain-lain. Di banyak tempat munculnya jaringan
internet dianggap sebagai sebuah revolusi dalam dunia komunikasi dan informasi.[14]
Dakwah melalui jaringan internet dinilai sangat efektif dan
potensial dengan beberapa alasan, di antaranya mampu menembus batas ruang dan
waktu dalam sekejap dengan energi yang relatif terjangkau. Pengguna jasa
internet setiap tahunnya meningkat drastis, ini berarti berpengaruh pula pada
jumlah penyerap misi dakwah. Dakwah secara etimologi bermakna ‘’ajakan’’
sedangkan dalam terminologi artinya adalah ‘’menggunakan akal fikiran dalam
rangka menyelamatkan manusia dari rasa jauh dan lupa terhadap Allah SWT agar
menjadi dekat dan ingat, dengan berbagai sarana dan metode.’’ Pada hakikatnya
metode dan sarana untuk berdakwah itu sangat banyak dan luas, atau bahkan
mungkin tidak akan ada batasnya. Sebab semua yang bisa dikerjakan oleh manusia
dan apa yang ada dimuka bumi ini selagi tidak berbenturan dengan syariat Islam
maka hal itu boleh dijadikan sebagai metode dan sarana untuk berdakwah (Erni
Arie Susanti, “Internet Sebagai Media Dakwah dan Informasi Umat” dalam
http://babinrohisnakertrans.org/artikel-islam/internet-sebagaimedia-dakwah-dan-informasi-umat,
diakses tanggal, 10/12/2013).[15]
Jadi, dakwah pada masa sekarang ini, yang dapat juga disebut
sebagai Dakwah Kontemporer dilakukan dengan cara menggunakan teknologi yang
sedang berkembang. Dakwah kontemporer ini sangat cocok apabila dilakukan di
lingkungan masyarakat kota atau masyarakat yang memiliki latar belakang
pendidikan menengah ke atas. Teknis dakwah kontemporer ini lain dengan dakwah
kultural. Jika dakwah kultural dilakukan dengan cara menyesuaikan budaya
masyarakat setempet, tetapi dakwah kontemporer dilakukan dengan cara mengikuti
teknologi yang sedang berkembang.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dakwah pada hakikatnya merupakan
risalah bagi setiap mukmin, perintah Rasulullah yang menuntut tanggung jawab
pelaksanaannya sepanjang masa dalam berbagai keadaan. Pada tingkat realisasi,
dakwah tetap erat kaitannya dengan lima unsur, yakni juru dakwah (da’i),
sasaran (masyarakat atau mad’u), materi, metode dan media dakwah. Dalam hal
ini, seni merupakan salah satu media dakwah yang cukup efektif dalam menyentuh
kesadaran bagi sasaran dakwah.
Seni Islam mempunyai dasar yang
jelas dalam melahirkan proses kreatif di dalam berkarya. Karya seni Islam
senantiasa memberikan arah tujuan kehidupan manusia yang lurus sesuai dengan
fitrah manusia yang berlandaskan pengabdian, karena Islam mengenal adanya
akhirat setelah dunia.
DAFTAR PUSTAKA
Mas’udi. (2013). Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam. AT-TABSYIR. Volume
1, Nomor 2.
Uchyana Effendy, Onong. (1986).
Komunikasi Dakwah. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Suparjo.
(2008). Islam dan Budaya: Strategi
Kultural Walisongo dalam Membangun Muslm Indonesia. Komunika, Vol. 2, No. 2.
Noer,
Deliar. (1996). Gerakan Modern Islam di Indonesia. Jakarta: LP3S.
Portal Komuniti Muslimah, Seni Islam
yang Menyuburkan, dalam www.Hanan.com, diakses, 2 Desember 2018.
M. Asy'ari. (2007). “Islam
dan Seni”. Jurnal Hunafa (STAIN
Palu) Vol. 4, No. 2.
Muhyidin, Asep. (2002). Metode
Pengembangan Dakwah. Bandung: Pustaka Setia.
M, K. Prenc. (1969). Kamus Latin
Indonesia. Yogyakarta: Kanisius.
Yusuf, Yunan. (2003). Metode Dakwah
Sebuah Pengantar Kajian. Jakarta: Prenada Media.
Anas, Ahmad. (2006). Paradigma
Dakwah Kontemporer. Semarang, Wali Songo Press IAIN Walisongo.
Suparta, Munzier Suparta dan Hefni,
Harjani. (2003). Metode Dakwah. Jakarta: Prenada Media.
[1] Mas’udi, AT-TABSYIR, Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam, Volume 1,
Nomor 2, Juli – Desember 2013. Hlm. 216
[2] Munzier
Suparta; Harjani Hefni, Metode Dakwah (Jakarta: Prenada Media, 2003), hlm. xiii
[3] Yunan Yusuf,
Metode Dakwah Sebuah Pengantar Kajian (Jakarta: Prenada Media, 2003), hlm 16-17.
[4] Ahmad Anas,
Paradigma Dakwah Kontemporer (Semarang, Wali Songo Press IAIN Walisongo, 2006),
hlm. 14-16.
[5] K. Prenc.M,
Kamus Latin Indonesia (Yogyakarta: Kanisius, 1969), hlm. 425.
[6] Asep Muhyidin,
Metode Pengembangan Dakwah (Bandung: Pustaka Setia, 2002), hlm. 212.
[7] Mas’udi, AT-TABSYIR, Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam, Volume 1,
Nomor 2, Juli – Desember 2013. Hlm. 220.
[8] M. Asy'ari. “Islam dan Seni” Jurnal Hunafa (STAIN
Palu) Vol. 4, No. 2
(Juni 2007), hal. 171-172
(Juni 2007), hal. 171-172
[9] Portal
Komuniti Muslimah, Seni Islam yang Menyuburkan, dalam www.Hanan.com, diakses, 2
Desember 2018.
[10] Deliar Noer,
Gerakan Modern Islam di Indonesia, (Jakarta: LP3S, 1996), hlm. 88.
[11] Suparjo, Islam
dan Budaya: Strategi Kultural Walisongo dalam Membangun Muslm Indonesia, Komunika,
Vol. 2, No. 2 (Desember 2008), hlm. 126.
[12] Onong Uchyana
Effendy, Komunikasi Dakwah (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1986), hlm. 12.
[13]
Mas’udi, AT-TABSYIR, Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam, Volume
1, Nomor 2, Juli – Desember 2013. Hlm. 217.
[14]
Mas’udi
hlm. 218
[15] Mas’udi
hlm. 220
Langganan:
Postingan (Atom)
Berita kampus iain kudus hari ini
Sehat dan Bugar: Rutinitas Senam Pagi Mahasiswa PGMI IAIN KUDUS Senin, 29 April 2019 Kudus,Tri.com- Mahasiswa PGMI IAIN Kudus ...
-
Rabu, 17 Maret 2019 Lutfi Tria Maharani (1740210046) Primi Rohimi S. Sos, MSI Pengertian dan Sejarah Penyiaran A. Pengertian ...
-
Kamis, 18 April 2019 Pengertian, Ciri-ciri, Jenis, Struktur Anatomi, dan Sistem Penulisan Berita A. Pengertian Berita Berita be...
-
Rabu, 13 Maret 2019 Lutfi Tria Maharani (1740210046) Primi Rohimi S. Sos, MSI Pengertian dan Sejarah Penyiaran A. Pengertian ...
