Minggu, 02 Desember 2018

tugas sosiologi dan antropologi dakwah

SENI SEBAGAI MEDIA DAKWAH Makalah Disusun Guna Memenuhi Tugas Akhir Semester Ganjil Mata Kuliah : Sosiologi dan Antropologi Dakwah Dosen Pengampu : Mas’udi, S.Fil.I.,M.A. Oleh : Lutfi Tria Maharani 1740210046 INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS DAKWAH DAN KOMUNIKASI KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM 2018 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap gagasan seni yang terlahir memiliki makna dan tujuannya masing-masing, seni adalah media netral yang dipengaruhi cara pandang dan ide-ide untuk apa dan siapa gagasan seni itu di buat. Dalam keadaan netral seni terkadang terbawa kepada dua hal yaitu gagasan positif dan negatif tergantung tadi, untuk apa dan siapa seni itu dibuat. Dari sifatnya yang netral itu pula seni memiliki masalah yang lumayan rumit dalam kehidupan masyarakat dewasa ini, karena dipandang sebagai sesuatu yang menyalahi norma norma dalam kehidupan salah satunya norma-norma gama, padahal seni itu tidak pernah salah dan tidak seharusnya disalahkan karna yang salah adalah pelakunya,bukan seninya Sebagai contoh, bagaimana jka kita lihat dengan seninya para wali songo leluhur kita mereka bisa mengislamkan ribuan bahkan jutaan penduduk nusantara khususnya tanah jawa, apakah seni harus disalahkan karena terlahirnya, sangat tidak rasional jika kebajikan ini disalahkan. Seni merupakan hasil dan bakat manusia, manusia dan kesenian tidak dapat dipisahkan, sebab kesenian merupakan perwujudan dari gagasan dan perasaan seseorang yang tidak pernah lepas dari masyarakat dan dibesarkan melalui kebudayaan. Bahkan sebelum manusia mengenal tulisan, seni telah menjadi salah satu bagian dalam kehidupan mereka. Ada berbagai macam seni yang kita kenal, seperti ada yang berbentuk tulisan, kaligrafi (lukisan), ukir, sastra, seni wayang, seni rupa, tari, dan lain sebagainya. Islam merupakan agama yang universal dan selalu mendorong umatnya untuk menyeru atau berdakwah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing individu. Dakwah mengandung arti ajakan, menyeru, atau memanggil. Dalam arti luas berarti mengajak orang untuk meyakini dan mengamalkan ajaran agama Islam (Amin, 2009:1). Adanya tekhnologi yang canggih misalnya computer, televisi, radio dan bahkan internet dapat berperan penting terhadap penyuksesan dakwah tersebut atau mungkin malah menjadi hambatan dalam berdakwah. Untuk itu kita dalam berdakwah diperlukan adanya siasat cermat dan jitu agar kebudayaan luar yang masuk melalui alat teknologi tidak terancam. Maka dari itu kesenian tradisional Indonesia dapat dijadikan media dakwah sebagaimana dilakukan oleh Sunan Kali Jaga dan Dalang lainnya yang memamfaatkan Wayang Kulit sebagai alat untuk menyebarkan agama islam. Konsep dakwah yang strategis dan lumintu, dengan pengelolaan secara profesional yang mampu mengakomodasi segala permasalahan sosial. Di sini, seni dan budaya dapat menjadi metode atau media dakwah, namun juga menjadi sasaran antara bagi dakwah Islamiyah itu sendiri. Sebagai media atau metode, seni budaya mempunyai proyeksi yang mengarah pada pencapaian kesadaran kualitas keberagamaan Islam yang pada gilirannya mampu mernbentuk sikap dan perilaku Islami yang tidak menimbulkan gejolak sosial, tetapi justru makin memantapkan perkembangan sosial. Sedangkan sebagai sasaran antara, dakwah Islamiyah diarahkan pada pengisian makna dan nilai-nilai Islarni yang integratif ke dalam segala jenis seni dan budaya yang akan dikembangkan. Dilatarbelakang seni sebagai sesuatu yang bersifat netral dan bisa diarahkan kepada sesuatu yang positif dan negatif itu, maka saya akan mencoba menguraikan bagaimana seni diarahkan kepada sesuatu yang sangat positif dan bernilai kebajikan-kebajikan yaitu seni dijadikan sebagai media dakwah. Dakwah sebagai kegiatan yang bersifat, mengajak, menyeru umat manusia kepada ketaatan terhadap tuhan yang maha esa untuk menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya, jika kita menarik benang merahnya dakwah dalam arti singkat adalah mengajak dan mempengaruhi dan hal ini sangat kontras dimiliki oleh sifat seni yang mampu mempengaruhi perasaan, kelakuan, cara pandang dan sikap seseorang yang tentunya akan sangat konperehensif jika seni dijadikan sebagai sarana media dakwah. B. Rumusan Masalah Dari latar belakang diatas, penulis akan mengambil beberapa rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, antara lain : 1. Bagaimana hubungan antara seni dengan dakwah? 2. Bagaimana karakteristik seni Islam itu? 3. Bagaimana perkembangan dakwah melalui kesenian? C. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini antara lain : 1. Untuk mengetahui bagaimana hubungan antara seni dengan dakwah. 2. Untuk mengetahui karakteristik seni Islam. 3. Untuk mengetahui perkembangan dakwah melalui kesenian. BAB II PEMBAHASAN A. Hubungan antara Seni dengan Dakwah Dakwah sebagai media pembentuk kepribadian (self personality) dan perilaku (community attitude) umat harus dihadirkan dengan strategi yang berhaluan kepada pengembangan keberagamaan (religiosity) yang progresif. Progresivitas dakwah mustahil diwujudkan tanpa dukungan media dan strategi dakwah yang kompeten. Dakwah pada hakikatnya merupakan risalah bagi setiap mukmin, perintah Rasulullah yang menuntut tanggung jawab pelaksanaannya sepanjang masa dalam berbagai keadaan. Pada tingkat realisasi, dakwah tetap erat kaitannya dengan lima unsur, yakni juru dakwah (da’i), sasaran (masyarakat atau mad’u), materi, metode dan media dakwah. Dalam hal ini, seni merupakan salah satu media dakwah yang cukup efektif dalam menyentuh kesadaran bagi sasaran dakwah. Kegiatan dakwah sering difahami sebagai upaya untuk memberikan solusi Islam terhadap berbagai masalah kehidupan dari seluruh aspek seperti aspek ekonomi, sosial, budaya, hukum, politik dan lain-lain. Oleh karena itu, dakwah haruslah dikemas dengan cara dan metode yang tepat dan pas, dakwah harus tampil secara aktual dalam arti memecahkan masalah yang kekinian dan hangat di tengah masyarakat. Faktual dalam arti kongkrit dan nyata, serta konstektual dalam arti relevan dan menyangkut problema yang sedang dihadapi oleh masyarakat. Namun demikian, aktivitas dakwah tampaknya belum berhasil secara penuh merubah keadaan masyarakat menjadi lebih baik. Ada banyak faktor yang menjadi penyebabnya, salah satunya adalah karena dakwah yang selama ini dilakukan bisa jadi cenderung kering, impersonal dan hanya bersifat informatif belaka, belum menggunakan teknik-teknik komunikasi yang efektif. Situasi ini mengindikasikan dakwah yang belum berpijak pada realitas sosial yang ada. Padahal dakwah dan realitas sosial memiliki hubungan interdependensi yang sangat kuat. Beberapa hal yang penting diketahui dalam dakwah adalah, bahwa ada dua segi dakwah yang tidak dapat dipisahkan, tetapi dapat dibedakan yaitu menyangkut isi dan bentuk, substansi dan forma, pesan dan cara penyampaiannya, esensi dan metode. Proses dakwah menyangkut keduaduanya sekaligus dan tidak dapat dipisahkan. Hanya saja perlu perlu disadari bahwa isi, substansi, pesan dan esensi senantiasa mempunyai dimensi universal yang tidak terikat oleh ruang dan waktu. Dalam hal ini substansi dakwah adalah pesan keagamaan itu sendiri, itulah sisi pertama dalam dakwah. Sisi kedua, meskipun tidak kurang pentingnya dalam dakwah yakni sisi bentuk, forma, cara penyampaian dan metode. Tentu saja seorang da’i hendaklah memilih metode dan media yang dari masa ke masa terus berkembang seperti mimbar, panggung, media cetak atau elektronik (radio, internet, televisi, komputer). Kemudian dengan mengembangkan media atau metode kultural dan struktural yakni pranata sosial, seni dan karya budaya. Juga dengan mengembangkan dan menyesuaikan metode dan media seni budaya masyarakat setempat yang relevan seperti wayang, drama, musik, lukisan dan lain sebagainya. Seni adalah ekspresi yang bernuansa Indah. Apakah itu ucapan atau ungkapan, lukisan atau tulisan, pendek kata dalam segala aspek kehidupan. Dengan ilmu segalanya menjadi mudah, dengan seni segalanya menjadi indah. Sedangkan menurut K. Prenc.M seni adalah penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam hati orang yang dilahirkan dengan perantara alat-alat komunikasi dalam bentuk yang ditangkap oleh panca indera pendengaran (seni suara), penglihatan (seni lukis) atau yang dilahirkan dengan gerak (seni drama dan tari). Maka seni dapat digunakan sebagai salah satu media dakwah. Ditinjau dari sisi sosiokultural, sudah menjadi fakta bahwa salah satu pilar kesuksesan dakwah nabi Muhammad SAW dikalangan masyarakat Arab adalah strategi beliau dalam mendekati kaum Arab lewat pendekatan seni dan budaya. Adanya kitab suci Al-Qur’an yang bernilai sastra tinggi di lingkungan yang sangat menghargai sastra budaya pada saat itu merupakan bukti bahwa melalui budaya masyarakat mudah menerima ajaran-ajaran Islam. Begitu juga dalam menetapkan hukum atas sesuatu, beliau tidak menghilangkan budaya yang ada, melainkan hanya meluruskan hingga sesuai dengan ajaran-ajaran Islam. Dalam pengertian yang luas, dakwah punya hubungan simbiosis dengan seni, dimana makna dan nilai-nilai Islam dapat dipadukan. Narnun dalam hal ini perlu adanya konsep dakwah yang lebih strategis lagi, dengan pengelolaan secara profesional yang mampu mengakomodasi segala permasalahan sosial. Di sini, seni dapat menjadi metode atau media dakwah, namun juga menjadi sasaran antara bagi dakwah Islamiyah itu sendiri. Sebagai media atau metode, seni mempunyai proyeksi yang mengarah pada pencapaian kesadaran kualitas keberagamaan Islam yang pada gilirannya mampu mernbentuk sikap dan perilaku Islami yang tidak menimbulkan gejolak sosial, tetapi justru makin memantapkan perkembangan sosial. Sedangkan sebagai sasaran, dakwah diarahkan pada pengisian makna dan nilai-nilai Islarni yang integratif ke dalam segala jenis seni dan budaya yang akan dikembangkan. Pada awal era kejayaan Islam, telah lahir tokoh-tokoh besar dibidang seni musik. Para ilmuwan muslim telah menjadikan musik sebagai media pengobatan atau terapi. Kegemilangan peradaban Islam ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan ini bersentuhan erat dengan moral Islam, budaya arab dan kebudayaan besar lainnya. Dalam konteks Indonesia, upaya penyampaian ajaran Islam melalui media seni sudah memiliki umur yang relatif tua. Para Walisongo dengan beberapa keahlian keseniannya telah mampu menyebarkan agama Islam hingga keberbagai daerah di Nusantara. Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang adalah dua dari sebagian tokoh penyebar Islam yang menjadikan seni musik sebagai media dakwah. Walisongo muncul saat runtuhnya dominasi kerajaan Hindu Budha di Indonesia. Kesembilan “wali” yang dalam bahasa Arab artinya penolong ini merupakan para intelektual yang terlibat dalam upaya pembaharuan sosial yang pengaruhnya terasa dalam berbagai manifestasi kebudayaan mulai dari kesehatan, bercocok tanam, berniaga hingga kepemerintahan. Yang menarik dari kiprah walisongo adalah aktivitas mereka yang menyebarkan Islam di bumi pertiwi tidaklah dengan armada militer dan pedang, tidak juga menginjak-injak dan menindas keyakinan lama yang dianut oleh masyarakat Hindu-Budha yang saat itu mulai memudar pengaruhnya. Namun, mereka melakukannya dengan cara halus dan bijaksana. Mereka tidak langsung kebiasaan-kebiasaan lama masyarakat namun justru menjadikannya sebagai sara berdakwah mereka. Salah satu media yang mereka gunakan sebagai media dakwah adalah wayang. B. Karakteristik Seni Islam Eksistensi dakwah dalam lingkaran studi komunikasi menjadi media yang sangat penting dihadirkan. Kenyataan ini menjadi sangat beralasan karena posisi dakwah dalam dunia komunikasi menjadi dua mata rantai konsepsi yang tiada bisa dipisahkan. Wahidin Saputro (2011:225-226) mencatat bahwa dakwah sebagai proses informasi nilai-nilai keislaman membutuhkan apa yang dinamakan proses pengomunikasian. Kandungan ajaran Islam yang didakwahkan merupakan sekumpulan pesan-pesan yang dikomunikasikan kepada manusia. Di sinilah berlaku pola proses dakwah dengan proses komunikasi. Tuntutan akan kenyataan dakwah beriring komunikasi bersandar kepada hakikat ajaran-ajaran keagamaan yang tidak semuanya berupa bentuk keterangan yang gamblang. Kebanyakan pesan keagamaan justru berupa lambang-lambang atau simbol-simbol yang harus diuraikan dan diinterpretasikan agar dapat dipahami oleh manusia. Tujuannya adalah agar peran komunikasi secara umum bagi dakwah sangat dominan. Islam merupakan agama tauhid, yang berarti intisari ajaran Islam sekaligus esensi seluruh ajaran Islam. Al-Faruqi menyatakan “There can be no doubt that essence of Islamic civilication is Islam; or that essence of Islam is tauhid”. Artinya, dapat dipastikan bahwa esensi dari seluruh peradaban Islam adalah Islam, dan esensi dari Islam adalah tauhid. Hal ini menunjukkan bahwa kesenian dalam Islam harus selaras dengan nilainilai tauhid. Kalimat tauhid yang paling singkat, tetapi memiliki makna yang sangat dalam yakni “Laa Ilaaha Illa Allah.” Inti kalimat ini adalah membebaskan manusia dari ketundukan terhadap selain Allah SWT., dan untuk menyembah Allah SWT., semata (Tahrir al-Nas ‘Ibad Ila Ibaditillah). Jadi, berkesenian harus mencerminkan semangat pembebasan tersebut, bukan sebaliknya. Oleh karena itu, kesenian dalam Islam bukan hanya sekedar mengajarkan moral, tetapi harus mengandung moral. Artinya, untuk menyampaikan pesan-pesan moral melalui kesenian, harus tetap dalam koridor moral. Seni Islam merupakan hasil dari pengejewantahan keesaan dalam bidang keanekaragaman. Ia harus merefleksikan kandungan prinsif keesaan Ilahi. Seni Islam harus mewujudkan, dalam taraf fisik yang secara langsung dapat dipahami oleh fikiran yang sehat, realitas-realitas dasar dan perbuatan-perbuatan sebagai tangga bagi pendakian jiwa dari yang dapat dilihat dan didengar menuju yang ghaib. Ada beberapa norma yang harus dipegang dalam kesenian menurut Islam, yaitu: a. Dilarang melukis lukisan yang bersifat pornografi, serta melukis hal-hal yang bernyawa. b. Dilarang menciptakan hikayat yang menceritakan dewa-dewa, kebiasaan pengarang yang mengkritik Tuhan. c. Dilarang menyanyikan lagu-lagu yang berisikan kata-kata yang tidak sopan. d. Dilarang memainkan musik yang merangsang kepada gerakangerakan sensual. e. Dilarang berpeluk-pelukan antara laki-laki dan perempuan atas nama tarian. f. Dilarang menampilkan drama dan film yang melukiskan kekerasan, kebencian, dan kekejaman. g. Dilarang memakai pakaian yang memamerkan aurat. Seni secara sederhana adalah usaha untuk menciptakan bentuk-bentuk yang menyenangkan, bentuk-bentuk yang menyenangkan itu memuaskan penghayatan, dan penghayatan itu dapat dipuaskan manakala kita mampu mengapresiasinya. Ada berbagai macam bentuk seni sebagaiamana yang sudah dituliskan di atas yakni, seni tari, seni rupa, seni lukis, dan lain-lain. Seni tari dianggap bersifat Islami apabila pada kandungan pesan yang disampaikan saat menari mengandung unsur-unsur Islam. Dengan demikian unsur keislamannya bukan hanya semata-mata pada gaya atau tekniknya saja tetapi lebih pada pesan yang disampaikan. Jadi, seni Islam adalah seni yang mengandung unsur-unsur keislaman yang terkandung didalam al-Qur’an dan al-Hadits. Menurut Islam, seni tidak boleh diklasifikasikan kepada subjek atau objek semata-mata. Ia harus dilihat sebagai Islam sendiri memandang sesuatu. Ia tidak dilihat pada sudut tertentu tetapi pada sesuatu yang menyeluruh Selaras dengan kehidupan yang telah ditentukan oleh Allah yang telah dimuatkan dalam firmanNya (Al Quran). Cara praktikal atau amaliyah pula melalui teladan kehidupan Rasulullah SAW. Oleh sebab itu, seni Islam mempunyai noktah dan tujuan yang jelas yaitu sebagai manifestasi beribadah kepada Allah. Manakala kandungannya pula seiring dengan nilai-nilai Islam. Seni Islam mempunyai dasar yang jelas dalam melahirkan proses kreatif di dalam berkarya. Karya seni Islam senantiasa memberikan arah tujuan kehidupan manusia yang lurus sesuai dengan fitrah manusia yang berlandaskan pengabdian, karena Islam mengenal adanya akhirat setelah dunia. Seperti sebuah hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Imam Ahmad, Rasulullah bersabda kepada Umar bin Al Khattab yang ketika melihatnya mengenakan pakaian yang baru, “kenakanlah pakaian baru, hiduplah secara terpuji dan matilah sebagai seorang syahid dan Allah memberimu kesenangan kehidupan di dunia dan akhirat”. Berdasarkan tujuan dan kandungan seni Islam maka setiap seniman Muslim harus memahami nilai-nilai Islam terlebih dahulu sebelum menguasai sesuatu tentang seni. Dalam arti lain, nilai Islamlah yang akan menjadi rujukan keseniannya. Seorang seniman yang melahirkan karya seni tidak terlepas dari pengalaman dan kehidupan yang dijalaninya. Oleh sebab itu, jika ia memahami nilai-nilai secara baik dan meyeluruh, maka karya seni yang dihasilkan pasti memancarkan roh keislamannya. Bukan permasalahan yang mudah untuk mendefinisikan apa sebenarnya makna seni Islam tersebut. Apakah yang dalam pengungkapannya memakai bahasa Arab sebagaimana orang awam melihat yang dapat kita katakan sebagai seni Islam. Ataukah seni yang mendapatkan pengakuan dari ajaran Islam, ataukah seni yang dalam operasionalnya bernuansa atau bernafaskan nilai-nilai yang termaktub dalam sumber ajaran agama Islam. Namun demikian, jika merujuk pada pandangan para ahli, mungkin kita dapat membangun persepsi yang setidaknya sama tentang apa sebenarnya seni Islam tersebut. Sementara itu, bila kita merujuk pada akar makna Islam yang berarti meyelamatkan ataupun menyerahkan diri, maka bisa jadi yang namanya seni Islam adalah ungkapan ekspresi jiwa setiap manusia yang termanifestasikan dalam segala macam bentuknya, baik seni ruang maupun seni suara yang dapat membimbing manusia ke jalan atau pada nilai-nilai Islam. Jadi, pengakuan seni oleh Islam tidak lepas dari fitrah manusia yang menuntut keserasian dan keseimbangan antara unsur-unsur fikir, rasa, karsa dan karya. Dari sisi fungsinya, seni dapat menjadi media mensyukuri nikmat Allah, dimana Allah telah menganugerahi manusia berbagai potensi, baik potensi rohani maupun potensi inderawi (mata, telinga dan lai-lain). Fungsi seni disini ialah menghayati sunnah Allah, baik pada alam, maupun yang terdapat dalam kreasi manusia. Seni merupakan perkara yang sangat penting karena berhubungan dengan hati dan perasaan manusia. Seni berusaha kecenderungan dan perasaan-perasaan jiwa manusia dengan alat-alat yang beraneka ragam dengan menggunakan alat-alat yang dapat didengar, dibaca, dilihat, dirasakan, maupun dipikirkan. Karena seni merupakan alat untuk mencapai tujuan, maka hukumnya sejalan dengan hukum tujuannya. Artinya, kalau digunakan untuk tujuan yang positif, hukumnya halal, tetapi sebaliknya kalau digunakan untuk tujuan yang negatif, maka hukumnya haram. C. Perkembangan Dakwah melalui Kesenian 1. Masa Lampau Dakwah dimasa lalu menghadapi masalah yang cukup berbeda dengan masa kini, sehingga para pendakwah di masa lampau mengunakan berbagai macam pendekatan. Keadaan masa lalu yang harus mengunakan pendekatan pada kultur yang sudah ada dan kebudayaan, serta agama yang sudah berkembang terlebih dahulu di suatu daerah harus mengunakan cara yang efektif pada masanya yaitu seni yang di minati di masa itu. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa strategi dakwah Walisongo mempunyai sikap yang sangat moderat terhadap kebuyaan lokal. Mereka mengadopsi kebudayaan dan tradisi lokal dan mengisiya dengan nilai-nilai Islam. Sikap ini terus dipertahankan, meskipun mereka sudah menjadi mayoritas dan mempunyai kerajaan Islam. Walisongo bahkan sengaja mngambil instrumen kebudayaan lokal tersebut untuk mepromosikan nilai-nilai Islam. Dengan kata lain, nilai-nilai Islam dipromosikan dengan isntrumen kebuayaan lokal. Sebagai mana contoh, Walisongo mengubah makna konsep “Jimat Kalimah Shada” yang asalnya berarti “jimat kali maha usada” yang bernuansa theologi Hindu menjadi makna “azimat kalimat syahada”. Frase yang terakhir merupakan pernyataan seseorang tentang keyakinan bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusanNya Dalam perspektif Islam, kalimah syahadah tersebut sebagai “kunci surga” yang berarti sebagai formula yang akan mengantarkan manusia menuju keselamatan dunia dan akhirat. Maksutnya ialah syahadat tersebut dalam perspektif muslim mempunyai kekuatan spiritual bagi yang mengucapkannya. Hal ini merupakan pernyataan seorang muslim untuk hidup dengan teguh memegang prinsip-prinsi ajaran Islam sehingga meraih kesuksesan di dunia dan akhirat. Walisongo juga mengembangkan lirik dan langgam tembang-tembang macapat yang sudah dikenal dan berkembang luas di masyarakat. Hanya saja Walisongo turut memberikan nilai-nilai Islam melalui isi dari tembang tersebut. Walisongo juga menciptakan lagu-lagu pujian keagamaan dengan model lirik semacam uyon-uyon dan ilir ilir. Jadi, dakwah pada masa lampau juga sering disebut dengan Dakwah Kultural karena dakwah dilakukan dengan cara mengikuti budaya-budaya kultur masyarakat setempat dengan tujuan agar dakwahnya dapat diterima di lingkungan masyarakat setempat. Dakwah kultural ini hukumnya syah-syah saja asal tidak bertentangan dengan nilai-nilai syar’i yang sudah baku, misalnya masalah aqidah. Sebab apabila dakwah yang kita anggap kultural ini kemudian kita salah menafsirkannya, maka yang terjadi adalah kefatalan. Misalnya saja kita berdakwah dengan harus mengikuti budaya agama lain yang dapat menggugurkan nilai aqidah kita, maka dakwah semacam ini tidak boleh dilakukan. 2. Masa Sekarang Sedangkan di masa sekarang ini dakwah mengalami permasalahan yang cukup beragam. Dikarenakan masuknya atau munculnya kebudayaan baru, ideologi-ideologi baru yang tentu saja menjadikan model penyampaian dakwah lebih bervariasi. Islam sebagai agama dakwah yang universal mewajibkan umatnya untuk melakukan internalisasi, difusi, transformasi dan aktualisasi syiar Islam. karena keuniversalannya itulah Islam mampu menenmpatkan posisi strategis yang mampu menjawab problematika yang muncul di tengah masyarakat modern. Untuk itu, suatu kewajiban bagi para da’i untuk memfungsikan media dakwah secara efektif, sehingga dapat mengarahkan umat untuk menguasai teknologi informasi dan komunikasi bagi kepentingan umat. Dengan begitu, maka Islam mampu melaksanakan program dakwah yang solutif terhadap kompleksitas umat dalam menerima aneka ragam informasi. Dari sekian banyak media massa yang ada, maka film merupakan salah satu media massa yang sangat efektif dalam pelaksanaan dakwah. Film memiliki daya tarik tersendiri, dan dapat disajikan dalam berbagai bentuk dan variasi sehingga dapat menimbulkan daya tarik bagi para penontonnya. Film merupakan hasil olahan dari berbagai macam komponen, seperti perwatakan, kostum, properti, alur, plot dan lainya yang mampu mengemas pesan maupun ideologi dari pembuatnya serta menyampaikan realitas simbolik dari sebuah fenomena secara mendalam. Pengaruh film terhadap jiwa manusia sangat besar, ada yang psitif ada yang negatif. Penonton tidak hanya terpengaruh sewaktu atau selama duduk menontn, tetapi terus sampai waktu yang cukup lama. Pengaruh film itu bukan sebatas pada cara berpakaian dan cara begaya saja tetapi sering menimbulkan pengaruh yang lebih jauh. Belakangan ini cara dakwah lewat film mulai banyak dilirik oleh para aktivis dakwah di Indonesia. Kesuksesan film Ayat-ayat Cinta menyedot perhatian seluruh lapisan masyarakat sehingga membuat sebagian aktivis dakwah tertarik untuk turut berdakwah melalui film. Dakwah melalui film dapat dengan mudah diterima oleh masyarakat karena nasehat yang disampaikan megalir tanpa ada ksan untuk menggurui. Selain film, musik juga merupakan alat komunikasi yang cukup efektif untuk digunakan sebagai media dakwah untuk saat ini. Melalui sebuah lagu seseorang dapat menyampaikan sebuah pesan yang sangat mudah untuk diterima dalam hati. Musik juga dapat mempengaruhi emosi dan perasaan seseorang yang menikmatinya. Dakwah sebagai media pembentuk kepribadian (self personality) dan perilaku (community attitude) umat harus dihadirkan dengan strategi yang berhaluan kepada pengembangan keberagamaan (religiosity) yang progresif. Progresivitas dakwah mustahil diwujudkan tanpa dukungan media dan strategi dakwah yang kompeten. Seiring dengan munculnya ragam media dan strategi dakwah, eksistensi jurnalistik hadir sebagai salah satu media komunikasi produktif. Di samping strategi dakwah yang telah umum common sense dilakukan, kehadiran jurnalistik menjadi media kontemporer yang dapat menyeimbangi perkembangan zaman globalization yang semakin pesat. Kehadiran media jurnalistik dalam dinamika kehidupan manusia menjadi fakta yang tidak terelakkan. Eksistensi jurnalistik sebagai media utama penyajian komunikasi dalam kehidupan umat manusia memiliki peranan yang signifikan. Realita ini dapat dilihat pada pencapaian kemerdekaan Indonesia. Beberapa pejuang kemerdekaan Indonesia menggunakan jurnalisme sebagai alat perjuangan. Di zaman penjajahan Belanda, beberapa media jurnalistik terbit mengiringi jalannya perjuangan, seperti Bintang Timoer, Bintang Barat, Java Bode, dan Medan Prijaji. Ketajaman eksistensi jurnalistik semakin menguat ketika zaman pendudukan Jepang. Beberapa media jurnalistik yang telah lama hadir di tengah-tengah masyarakat Indonesia dilarang peredarannya. Akan tetapi, pada akhirnya ada lima media yang mendapat izin terbit: Asia Raja, Tjahaja, Sinar Baru, Sinar Matahari, dan Suara Asia. Zaman Orde Baru pun memberikan potret yang tajam atas peranan media jurnalistik terhadap kebijakan pemerintah. Besarnya ancaman yang dimunculkan oleh eksistensi media jurnalistik mengakibatkan dibredelnya beberapa surat kabar nasional, di antaranya; Harian Indonesia dan Majalah Tempo. Dalam pertumbuhan zaman, internet merupakan kebutuhan bagi banyak orang karena dengan internet setiap pribadi mampu mengakses dan menemukan segala informasi di seluruh dunia dengan cepat dan mudah. Kebutuhan internet sangat penting sehingga peningkatan jumlah pemakai internet setiap tahun selalu meningkat di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri jumlah pemakai internet selalu meningkat dengan peningkatan yang cukup besar. Saat ini perkembangan internet tidak lagi hanya digunakan untuk mencari data atau informasi yang dibutuhkan, namun bisa juga digunakan sebagai sarana untuk menghancurkan kekuatan musuh. Bahkan awal diciptakannya teknologi jaringan komputer sekitar tahun 1960 dimanfaatkan oleh angkatan bersenjata Amerika untuk mengembangkan senjata nuklir. Amerika khawatir jika negaranya diserang maka komunikasi menjadi lumpuh. Untuk itulah mereka mencoba komunikasi dan menukar informasi melalui jaringan komputer. Dahulu internet hanya dapat digunakan oleh kalangan tertentu dan dengan komponen tertentu saja. Tetapi saat ini orang yang berada di rumah pun bisa terhubung ke internet dengan menggunakan modem dan jaringan telepon. Selain itu, Internet banyak digunakan oleh perusahaan, lembaga pendidikan, lembaga pemerintahan, lembaga militer di seluruh dunia untuk memberikan informasi kepada masyarakat. Hadirnya akses internet merupakn media yang tak bisa dihindari, karena telah menjadi suatu peradaban baru dalam dunia informasi dan komunikasi tingkat global. Dengan adanya akses internet, maka sangat banyak informasi yang dapat dan layak diakses oleh masyarakat internasional, baik untuk kepentingan pribadi, pendidikan, bisnis, dan lain-lain. Di banyak tempat munculnya jaringan internet dianggap sebagai sebuah revolusi dalam dunia komunikasi dan informasi. Dakwah melalui jaringan internet dinilai sangat efektif dan potensial dengan beberapa alasan, di antaranya mampu menembus batas ruang dan waktu dalam sekejap dengan energi yang relatif terjangkau. Pengguna jasa internet setiap tahunnya meningkat drastis, ini berarti berpengaruh pula pada jumlah penyerap misi dakwah. Dakwah secara etimologi bermakna ‘’ajakan’’ sedangkan dalam terminologi artinya adalah ‘’menggunakan akal fikiran dalam rangka menyelamatkan manusia dari rasa jauh dan lupa terhadap Allah SWT agar menjadi dekat dan ingat, dengan berbagai sarana dan metode.’’ Pada hakikatnya metode dan sarana untuk berdakwah itu sangat banyak dan luas, atau bahkan mungkin tidak akan ada batasnya. Sebab semua yang bisa dikerjakan oleh manusia dan apa yang ada dimuka bumi ini selagi tidak berbenturan dengan syariat Islam maka hal itu boleh dijadikan sebagai metode dan sarana untuk berdakwah (Erni Arie Susanti, “Internet Sebagai Media Dakwah dan Informasi Umat” dalam http://babinrohisnakertrans.org/artikel-islam/internet-sebagaimedia-dakwah-dan-informasi-umat, diakses tanggal, 10/12/2013). Jadi, dakwah pada masa sekarang ini, yang dapat juga disebut sebagai Dakwah Kontemporer dilakukan dengan cara menggunakan teknologi yang sedang berkembang. Dakwah kontemporer ini sangat cocok apabila dilakukan di lingkungan masyarakat kota atau masyarakat yang memiliki latar belakang pendidikan menengah ke atas. Teknis dakwah kontemporer ini lain dengan dakwah kultural. Jika dakwah kultural dilakukan dengan cara menyesuaikan budaya masyarakat setempet, tetapi dakwah kontemporer dilakukan dengan cara mengikuti teknologi yang sedang berkembang. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dakwah pada hakikatnya merupakan risalah bagi setiap mukmin, perintah Rasulullah yang menuntut tanggung jawab pelaksanaannya sepanjang masa dalam berbagai keadaan. Pada tingkat realisasi, dakwah tetap erat kaitannya dengan lima unsur, yakni juru dakwah (da’i), sasaran (masyarakat atau mad’u), materi, metode dan media dakwah. Dalam hal ini, seni merupakan salah satu media dakwah yang cukup efektif dalam menyentuh kesadaran bagi sasaran dakwah. Seni Islam mempunyai dasar yang jelas dalam melahirkan proses kreatif di dalam berkarya. Karya seni Islam senantiasa memberikan arah tujuan kehidupan manusia yang lurus sesuai dengan fitrah manusia yang berlandaskan pengabdian, karena Islam mengenal adanya akhirat setelah dunia. DAFTAR PUSTAKA Mas’udi. (2013). Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam. AT-TABSYIR. Volume 1, Nomor 2. Uchyana Effendy, Onong. (1986). Komunikasi Dakwah. Bandung: Remaja Rosda Karya. Suparjo. (2008). Islam dan Budaya: Strategi Kultural Walisongo dalam Membangun Muslm Indonesia. Komunika, Vol. 2, No. 2. Noer, Deliar. (1996). Gerakan Modern Islam di Indonesia. Jakarta: LP3S. Portal Komuniti Muslimah, Seni Islam yang Menyuburkan, dalam www.Hanan.com, diakses, 2 Desember 2018. M. Asy'ari. (2007). “Islam dan Seni”. Jurnal Hunafa (STAIN Palu) Vol. 4, No. 2. Muhyidin, Asep. (2002). Metode Pengembangan Dakwah. Bandung: Pustaka Setia. M, K. Prenc. (1969). Kamus Latin Indonesia. Yogyakarta: Kanisius. Yusuf, Yunan. (2003). Metode Dakwah Sebuah Pengantar Kajian. Jakarta: Prenada Media. Anas, Ahmad. (2006). Paradigma Dakwah Kontemporer. Semarang, Wali Songo Press IAIN Walisongo. Suparta, Munzier Suparta dan Hefni, Harjani. (2003). Metode Dakwah. Jakarta: Prenada Media.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berita kampus iain kudus hari ini

Sehat dan Bugar: Rutinitas Senam Pagi Mahasiswa PGMI IAIN KUDUS Senin, 29 April 2019 Kudus,Tri.com- Mahasiswa PGMI IAIN Kudus ...